Melihat apa yg terjadi pada negeri kita sungguh sangat lah miris. Mulai dari kasus century sampai dengan gayus. Nampak yang dilakukan oleh pemerintah tidaklah serius. Mulai dari penangkapan yang tebang pilih, dan penutup-nutupan kasus.
Nampak bahwa politisi di negeri ini hanya bermain-main dalam berpolitik. Tidak serius, dan penuh "pertimbangan". Maksud disini penuh pertimbangan adalah bagaimana mempertahankan posisinya agar aman. Seperti kita tahu untuk masuk ke jajaran pemerintah/DPR diperlukan uang yang tidak sedikit. Ini dibuktikan dengan banyaknya praktek bagi-bagi uang menjelang pilkada/pilpres. Dan bukti yang lebih konyol lagi adalah, banyaknya orang yang menjadi stress sesudah pilkada tersebut selesai. Kenapa stress? Tentu saja karena gagal maju ke Senayan. Padahal uang yg dikeluarkan sudah sangat banyak. Tidak heran sesudah pengumuman, mereka yang gagal dapat kita jumpai di layar televisi sedang dirawat di rumah sakit jiwa.
Hal-hal seperti ini tentunya adalah akar yang buruk. Karena untuk menjadi politisi ternyata diperlukan modal besar, dan beberapa harus mengembalikan uang yang telah dipinjamnya tersebut. Maka itu bergencar-gencarlah korupsi dilakukan. Karena posisi sebagai anggota dewan ternyata tidak diimani, sehingga menjalankannya pun setengah hati. Yang ada di pikiran hanya uang saja. Dan sudah menjadi tabiat manusia yaitu menjadi rakus dan tidak pernah puas.
Dengan akar seperti ini, sudah pasti buah-buah yang dihasilkan pun buruk. Lihatlah betapa sering surat kabar nasional kita menayangkan keburukan politisi kita. Mulai dari sikap arogan, korupsi , dan peraturan-peraturan yang membingungkan. Di beri "makanan" seperti ini, tidak heran lama kelamaan orang-orang di negeri ini menjadi muak dan jijik. Sehingga menimbulkan opini publik, bahwa politisi sudah pasti kotor. Dengan demikian akan membuat kepercayaan masyarakat menurun.
Andai para politisi ini mendengar, dan sadar. Bahwa sebenarnya menjadi wakil rakyat lebih merupakan kerja sosial. Bukan pekerjaan yang mencari laba sebanyak-banyaknya. Sayangnya , hanya sedikit yang sadar, dan banyak yang pura-pura tidak dengar.